Apel Malang

Apel, buah khas Indonesia asli Malang

Makin terpuruknya para petani buah Apel di Malang disebabkan serbuan buah impor dan membuat produksi buah Apel di Malang hanya tinggal sedikit. Produksi Apel di Malang terus merosot, ini dikarenakan terus digempurnya buah lokal oleh buah impor, dan produksi apel yang ditanam disini tinggal 30%. Memang harga buah impor seperti Apel Washington dan Apel Fuji harganya cukup mahal dan harga apel lokal jauh lebih murah. Namun kenapa tidak laku dipasaran? karena petani disini kalah dalam hal kemasan. Lihat saja deretan buah impor, mulus, bagus kemasannya, tersusun rapi bandingkan dengan buah apel lokal, diletakkan ‘terpinggirkan’, tertumpuk begitu saja.

Memulai perjalanan dari rumah pukul 09.00 pagi menuju perkebunan Apel yang berjarak sekitar 2 km dari rumah saya. Bersama Keyla Misbach, anak semata wayang, temen bemain sekaligus temen curhat. Tapi curhat dalam hal ini bukan seputar remaja melainkan tentang cerita temen2 di sekolah TK barunya … i love you Key …

Baru setengah perjalanan tiba2 si kecil tertidur,  setengah jam perjalanan akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Nama desa ini Poncokusumo, tentu bagi warga Tumpang dan sekitarnya ini bukan nama yang asing lagi, jadi maaf jika yang membaca artikel ini merupakan warga sekitar jangan terlalu di komentari, jalan2 koq ke Poncokusumo… Tapi artikel ini saya tulis karena saya sudah berjanji menulis tentang Apel Malang di postingan idah_ceris sahabat bloger yang sudah menulis tentang salak pondoh Banjarnegara. Belum tau tentang Poncukusumo? desa ini merupakan sentra produksi Apel khas Indonesia dari Malang Timur selain Kota Batu. Penasaran? langsung saja meluncur kesini setelah membaca postingan saya, dijamin sahabat bloger bisa membawa pulang atau makan Apel sepuasnya langsung dari pohonnya. Jadi, tunggu apalagi ? Silahkan berkunjung kerumah saya.

Perjalanan menuju kebun Apel yang akan dipanen ternyata sulit juga, padahal di setiap sudut jalan rumah warga Poncukusumo terdapat pohon Apel, tetapi rata2 Apel yang ada belum siap untuk dipanen. Lalu, saya berhenti di salah satu rumah warga, kebetulan tiga hari lagi Apel miliknya akan di panen. Seorang Ibu langsung mempersilahkan saya masuk ke kebun miliknya dan saat itu juga saya langsung bertanya tentang seputar Apel yang akan dipanennya. Setelah ngobrol panjang lebar ada sedikit obrolan yang menurut saya lugu, layaknya seorang Ibu yang tinggal di sebuah pedesaan dengan polos meskipun hanya sekedar untuk sebuah foto :

Ibu : “Mas, kalau mau memetik Apel untuk dimakan, silahkan ga’ apa2”.
Saya : Wah… saya puasa Bu, hehe.
Ibu : “Kalau begitu saya ambilkan kantong biar dibawa pulang Apelnya
Saya : Wah… jadi ngrepotin ne bu …
Ibu : “Engga’ mas, buat sikecil soalnya dari tadi anaknya pegang2 terus sama buah Apelnya”
Saya : Wah… maaf ya Bu … sikecil malu2in …
Ibu : “Mas, mas …
Saya : Wah… Iya Bu,
Ibu : “Boleh minta jepretnya?” (untuk di foto maksudnya)
Saya : Wah… boleh, satu dua tiga … crettt …
Ibu : “Mas, fotonya jadi kapan?”
Saya : Wah… maaf bu, saya bukan tukang foto keliling, kalau kesini lagi insyaalah saya berikan fotonya.

Wah… ngobrolnya jadi panjang, akhirnya obrolan saya akhiri. Kalau saya tuliskan disini obrolannya bakalan puanjang dan bikin pusing sahabat bloger membacanya. Ibu tadi minta foto itu karena saya telah  diberi Apel untuk dibawa pulang. Dia lalu berpesan, kalau kesini lagi jangan lupa saya di foto lagi ya”. Iya Bu, terima kasih Apelnya. Tapi kalau bisa jangan satu kantong Apelnya, tapi satu karung biar saya bagi Apelnya sesama sahabat bloger.” … wkwkkkkk …

Saat ini jumlah petani apel di Poncokusumo semakin susut, sebagian beralih bercocok tanam selain Apel sebagian lagi bertahan untuk mempertahankan buah Apel asli Poncokusumo sebagai khas buah Indonesia dari Malang Timur. Sampai pada akhirnya petani Apel cuma punya pilihan terus bertahan atau mencari pekerjaan lain.

(gm_corner)

5 thoughts on “Apel Malang

  1. seharusnya tetap d pertahankan… dan pemerintah seharusnya juga membantu.. salah satunya dengan cara mengurangi impor buah2 dr luar… tp klw ngomongi pemerintah bikin punyeng…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s