Rekonsiliasi Hanya Isapan Jempol

Di saat berbagai flare dinyalakan, disaat jalanan Kota Malang dipenuhi ribuan Aremania yang konvoi dan disaat ada Aremania yang mengadakan buka puasa bersama namun tetap saja di umur ke 25 ini nama Arema sebagai klub sepakbola masih dipakai oleh dua tim yang berkompetisi di ISL ataupun IPL. 

Harapannya saat umur ke 25 ini pasti ada kado terindah yaitu rekonsiliasi antara kedua belah pihak. Namun hingga kini ternyata tak ada pengumuman resmi bahwa rekonsiliasi itu terjadi. Ungkapan awal dari kedua belah pihak pun hanya bagai isapan jempol semata. Aremania memilih adanya rekonsiliasi sebagai kado terindah tapi apa mau dikata hal itu ternyata kembali menjadi mimpi di siang hari yang susah untuk mewujudkannya. Apa kemudian yang menyebabkan semua ini terjadi ? Cukup satu kata EGO.

Ya dengan ego masing-masing kepala di jajaran manajemen Arema IPL ataupun Arema ISL inilah yang membuat kesepakatan untuk menjadikan kembali Arema hanya satu sudah terealisasi. Kedua belah pihak sama-sama menyombongkan dengan kemampuannya. Tak bisa ditutupi, Arema IPL adalah klub dengan jaminan dana yang cukup melimpah bahkan mungkin lebih melimpah daripada sekedar ketika Arema dipegang Bentoel. Di sisi lain Arema ISL juga klub dengan jaminan loyalitas suporter yang cukup besar.

Tapi apa yang terjadi dengan keunggulan masing-masing itulah akhirnya membuat rekonsiliasi belum menemui kata sepakat. Karena inilah penulis jadi ingat ungkapan salah satu teman yang pernah mengatakan, “Sing siji ojok sombong, sing sijine ojok kakehan gaya (Yang satu jangan sombong dan yang satu jangan banyak tingkah)”.

Mungkin kalimat diatas memang cocok diberikan untuk petinggi-petinggi kedua tim yang hanya mengedepankan ego masing-masing kelompok daripada keinginan Aremania yang ingin melihat tim kebanggannya menjadi satu lagi. Mayoritas Aremania pasti ingin melihat tim yang disusun mempunyai komposisi pemain yang cukup kuat dan tak ada halangan finansial selama semusim. Dan disisi lain pasti akan sangat indah jika stadion selalu penuh dengan satu nama Arema.

Tapi apa daya penulis dan juga Aremania hanyalah penonton yang hanya bisa melihat tingkah laku yang dilakukan oleh para petinggi di Arema dan terus menanti dan terus berharap kapan Arema akan menjadi satu lagi ?

http://www.ONGISNADE.co.id

3 thoughts on “Rekonsiliasi Hanya Isapan Jempol

  1. Menurut saya mas, rekonsiliasi itu tidak akan pernah terjadi hingga FIFA menghukum (membekukan PSSI). Kalau dilihat ke belakang, ini karena PSSI yang sekarang mengganti nama kompetisi menjadi IPL padahal ISL jelas-jelas sudah mapan dan tinggal menjalankannya, ditambah pergantian pelatih Alfred Riedl yang notabene hasil pilihan PSSI sebelumnya. Bukannya lebih baik, tapi sama saja dengan sebelumnya hanya beda kasus karena mereka juga punya ego yang tidak bisa menyentuh semua kalangan.
    Ya inilah akibatnya sekarang..

    • Wah moncer komentarnya,
      Tapi apa daya, kita hanyalah penonton, cuman bisa melihat tingkah laku yang dilakukan oleh para petinggi PSSI yg bertingkat seperti anak kecil, rame dengan kelucuannya sendiri2,
      Kita hanya menanti dan terus berharap kapan sepakbola Indonesia akan maju ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s