Kesurupan di Depan Istri

Kuda Lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula kesenianan ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Konon, kesenian Kuda Lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa kesenian Kuda Lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, kesenianan ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya,  di daerah saya kesenian tradisional ini masih kerap diadakan oleh warga sekaligus melestarikannya.

Cerita dimulai dari salah satu tetangga saya yang memiliki saudara dengan kejadian aneh, menggelikan sekaligus lucu tentang kuda lumping. Sebut saja Pak Warno, orang yang selalu aktif dalam kesenian kuda lumping ini, bahkan dia juga tergabung dengan grup kesenian kuda lumping yang hingga kini masih ada di daerah saya lima tahun yang lalu.

Pak Warno sepulang kerja selalu melewati gang2 kecil di kampung saya. Perjalanan menuju kerumahnya terhenti sejenak, tatkala sore itu Pak Warno melihat beberapa pemuda dan juga sesepuh desa melakukan kerja bakti. Ternyata kerja bakti yang dilakukan oleh warga setempat digunakan sebagai ajang untuk menggelar hiburan kesayangannya, yaitu Kuda Lumping. Sebagai orang yang getol dengan hiburan ini, Pak Warno pun bergegas pulang. Apalagi nama Pak Warno di dunia perkuda lumpingan sudah terkenal meskipun hanya seantero tempat tinggal saya.

Tiba dirumah Pak Warno langsung disambut istri tercinta, saat itu pula tanpa berlama-lama sang istri langsung membuatkan secangkir kopi panas untuk menghangatkan diri. Suasana semakin bertambah hangat ketika Pak Warno berbincang-bincang dengan istrinya. Logat bahasanya saya rubah ke bahasa Indonesia saja, takutnya sahabat blogger kurang mengerti apa yang terjadi dengan perbincangan ini. Cekikot …

“Bu’, aku nanti mau ikut jaranan [sebutan untuk kuda lumping di daerah saya]. Celetuk Pak Warno dengan nada rendah.

“Ga capek Pak? Sampeyan kan seharian lembur, terus pulangnya juga sudah sore”.

“Ngga’ capek kok, malahan kalau nggak ikut sungkan sama teman2, tegas Pak Warno”.

“Wis Pak, diomah ae turu [dirumah saja tidur],”

Semakin penasaran, Pak Warno tetep mengajukan permintaan untuk yang ketiga kalinya dan berharap keinginannya dikabulkan oleh istrinya.

“Bu’, aku mau ikut jaranan, aku pamit ya?”.

Sang istri kali ini tidak menjawab pertanyaan dari Pak Warno, dan dia langsung menuju tempat tidur ditemani sang anak yang disela2 perbincangannya terlihat ngantuk sekali.”

Pak Warno wajahnya memerah padam, memendam keinginan yang belum terkabulkan, mengikuti kata hatinya untuk menjadi seorang kesatria jaranan. Tanpa berpikir lama, Pak Warno pun lekas menyusul istri dan anaknya ke ruang tidur. Sesekali Pak Warno melihat kearah istri dan anaknya yang sudah larut dalam tidur lebih dulu. Di tempat tidur nampaknya Pak warno tidak bisa memejamkan mata, karena letak sumber suara bunyi gending2 di lokasi kesenian kuda lumping terdengar sayup2 di telinganya. Disinilah kejadian lucu sekaligus menggelikan itu terjadi …

Pak Warno perlahan-lahan mulai terlihat aneh, sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur terlihat sesekali Pak Warno menggerakkan kepalanya sambil mendengarkan alunan suara tarian kuda lumping dari lokasi pertunjukkan yang tidak jauh dari rumahnya. Lalu …

Gubraakkk,,, Ggrrrgg,,ggrrrr,grrrrrr,,, Hwaaa ….. Hggrrr…

Pak Warno pun kesurupan, entah apa yang telah merasuki tubuhnya, dia terus melakukan gerakan2 layaknya seorang kastria jaranan yang sedang kalap. Dalam keadaan tidak sadar, Pak Warno terus menari dengan gerakan mengikuti alunan gending2 yang terdengar semakin keras. Lalu istrinya berteriak minta pertolongan kepada warga sekitar. Tanpa menunuggu lama, rumahnya langsung dipenuhi warga setempat untuk memberikan pertolongan pertama pada Pak Warno. Hanya satu permintaan dari Pak Warno, yakni minta diantar menuju arena pertunjukkan dan bergabung dengan grup kesenian kuda lumping yang sedang berlangsung. Beberapa temannya mengantarkan dia menuju arena pertunjukkan. Pak Warno pun memilih untuk jalan kaki, meskipun ada beberapa warga yang iseng menawarkan jasa kepada Pak Warno agar naik pesawat saja biar cepat. Weee,,, namanya orang kesurupan apa saja dia lakukan, jangankan jalan kaki makan beling saja dia mau.

Sampai ditempat pertunjukkan, gemuruh tepuk tangan penonton menyambut kedatangan Pak Warno. Teman2nya yang mengikuti tarian kudang lumping sejak awal terlihat juga ada beberapa orang yang sudah kalap. Seolah sambutan selamat datang ditujukan kepada Pak Warno, ada salah satu temannya mengambilkan properti kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu, lalu bergabunglah mereka menjadi satu. Dan …. cring cring cring … Pak Warno terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak bersama teman2nya.

Dalam pertunjukkan ini hadir juga beberapa dukun jaranan, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para dukun jaranan inilah yang akan memberikan penawar hingga kesadaran Pak Warno maupun teman2nya kembali pulih.

Tiga puluh menit berlalu, setelah keinginannya terkabul untuk menjadi kesatria jaranan, Pak Warno terlihat sedang mencari sesuatu. Ternyata sesuatu itu adalah dukun jaranan. Tujuannya hanya satu yakni ingin segera disembuhkan/ supaya yang merasuki tubuhnya segera dikeluarkan. Entah apa yang diucapkan sang dukun kepada Pak Warno, sesekali mulut mbah dukun komat kamit sambil memegang cambuk yang katanya cambuk tersebut sebagai pengendali situasi. Disertai sabetan cambuk yang menghujam ketanah, diminum juga sedikit air putih oleh mbah dukun tadi, dan … byuhh … seketika itu kesadaran Pak Warno berangsur2 normal kembali.

Sepulang dari kegiatan ini Pak Warno terlihat kelelahan, disela-sela perjalanan menuju kerumah Pak Warno  meluapkan kegembiraannya, “Lego aku, wis mari kalap rek”…

Ada yang ingin memberikan komentar tentang peristiwa Pak Warno ? silahkan tinggalkan komentar.

Note :

Kesenian Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Seringkali dalam pertunjukan kesenian Kuda Lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa. Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti Malang, Nganjuk, Tulungagung, dan daerah-daerah lainnya.

23 thoughts on “Kesurupan di Depan Istri

  1. semasa saya masih kecil, saya sering liat jaranan di dekat rumah pak, sering ada hajatan yang nanggap jaranan waktu itu

    tapi kadang kadang takut juga nek kesurupane kelewatan dan keluar dari jangkauan pak dukun jaranan’e

  2. di daerah saya juga masih ada sam.. ya gitu deh, kadang pemain kuda lumping yang sebenarnya gak ikutan main ikut kesurupan

    • Iya disitulah enaknya jd penonton bisa lari terbirit2 ,,,
      Kalau takut / ngeri mending liatnya di tipi aja (siaran tunda) gkgkkk … kayak maen bola aja, ada siaran tunda.

  3. Wah ampe segitunya ya kesurupanya. Dunia mistik memang misterius, hehehe
    Coba kalo kesurupanya diterusin. Bisa jadi profesi tuh! gabung aja sama group kuda lumpingnya. hahaha😀

  4. beuh kalau kuda lumping, nontonnya ngeri
    karena orang yg kesurupannya bisa sampai makan beling

    padahal mencerminkan heroisme gak perlu segitunya banget ya
    tapi namanya juga seni pertunjukan😀

  5. Aku nggak pernah liat jaranan kek gitu
    Mungkin kalo di Bali drama calon arang gitu ya yang pake kesurupan2
    Tapi drama calon arangpun aku cuma lihat di TV. Soalnya pentasnya malem banget…
    Pengin suatu saat liat jaranan. Kebetulan mbahku juga dari Jawa lho mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s