Pijat Plus Pertamaku

Pijat adalah suatu hal yang paling menyenangkan untuk mengembalikan kebugaran tubuh. Bila darah berjalan lancar maka fungsi pikiran dan jasmani tetap normal. Pijat membuat darah dapat mengalir secara lancar sehingga stamina tubuh meningkat dan terjaga.

Perubahan lingkungan yang tiba-tiba, membuat tubuh saya tidak cukup cepat menyesuaikan diri, sehingga apa yang saya khawatirkan terjadi saat ini. SAKIT GIGI ~

Malam pertama

Ini bukan cerita malam pertama pasangan yang baru nikah. Tapi ini malam pertama saya merasakan sakit gigi, yang berujung pipi sebelah kanan saya bengkak. Sesekali wajah ini kuhadapkan ke arah cermin, untuk melihat pipi ini yang tidak lagi simetris dan rasanya mengenyut (nyut2an) bahkan sampai di kepala. Sakit gigi merupakan salah satu hal yang menyiksa, sangat menggangu saya dalam melakukan aktivitas sehari2. Tidak enak makan, minum, tidur, hanya bisa mengeluh.

Malam kedua sakit gigi

Malam ini saya memutuskan untuk mencari tukang pijat tradisional terdekat. Sebut saja namanya Pak Nali, tukang pijat yang sudah lama praktik di kampung saya. Walaupun saya sendiri kurang terbiasa dengan yang namanya pijat, untuk malam ini saya harus merelakan remasan jari2 pak Nali mendarat di punggung / bagian tubuh saya yang lain. Saya sendiri merasakan pijat hanya beberapa kali, itupun waktu saya mau khitan dan memijat adalah si mbah saya sendiri.

Sudah lama saya tidak berkunjung / pijat dirumah pak Nali. Saya perhatikan ada yang berubah dalam rumah itu. Beberapa bulan lalu, tempat untuk memijatpasien dilakukan di dalam kamar oleh pak Nali, namun sekarang tempat pemijatan itu dipindah ke ruang tamu. Di ruang tamu itu ada semacam bilik yang digunakan untuk tempat pemijatan. Ada tirai kain yang membatasi antara tempat antrian pijat dengan pasien yang sedang dipijat. Kain penutup itu sedikit tipis, hingga aktivitas pemijatan yang dilakukan pak Nali juga samar2 terlihat oleh pasien lain yang sedang menunggu antrian.

pukul 19:25 – Saya hanya mengenakan celana pendek yang biasa saya pakai untuk olahraga tepok bulu. Pak Nali kemudian mempersilahkan saya untuk masuk ke bilik tempat pemijatan. Menunggu beberapa saat sebelum dipijat, didalam bilik itu saya memperhatikan tali dan paku pengikat kain yang ditancapkan ke tembok sedikit kendor/ ada yang kurang beres menurut saya. Karena gigi ini semakin nyut2an, saya memilih diam sambil sesekali memegangi pipi ini dan untuk tidak mempertanyakan perihal kurang beresnya paku itu kepada pak Nali.

pukul 19:30 – Pak Nali melakukan pemijatan dimulai dari bagian kaki saya. Beralih ke bagian tubuh saya yang lain. Sungguh, pemijatan yang dilakukan pak Nali membantu mengatasi masalah sakit gigi saya. Peredaran darah yang lemah sedikit demi sedikit terasa mengalir deras, membuat badan ini kembali segar.

Adegan panas itu

pukul 19.45 – Pak Nali mulai mengurut bagian ‘maaf’ bokong saya. Dengan posisi tengkurap saya sesekali menoleh untuk memperhatikan tali pengait paku yang menancap ke tembok. Kemudian, nampak diruang antrian datang seorang Ibu yang mengantarkan suaminya untuk pijat dirumah pak Nali. Dan sempat terjadi beberapa obroloan diantara orang2 yang menunggu antrian, termasuk Ibu yang mengantarkan suaminya.

pukul 19.50 – Duapuluh menit berlalu, pak Nali masih memijat bagian bokong saya dan belum berpindah pijatan. Dengan sedikit terbuka pada bagian bokong saya, perlahan rasa dingin di area pijatan itu semakin saya rasakan, semakin dingin dan dingiiiiiin sekali.

Bruuuaaahhhh … “ eh bokong eh bokong bokong ..

Mendengar suara aneh itu saya hanya terdiam, saya pikir itu adalah obrolan2 lucu dari beberapa orang yang menunggu antrian.

Astaga, ternyata paku yang menancap ke tembok itu lepas karena tidak kuat menahan beban kain. Tirai kain yang membatasi antrian dengan tempat pijatpun terbuka, lepas tidak bisa dijangkau oleh tangan pak Nali. Inilah yang membuat suana menjadi heboh, mereka terkejut melihat bagian bokong saya yang sedikit terbuka. Dan suara yang paling keras tadi keluar dari tawa Ibu2 yang sepertinya latah. Sambil menutupi setengah mukanya dengan kerudung, Ibu itu beranjak keluar rumah pak Nali. Iya, mungkin malu atau yang lainnya karena ada kesalahan teknis di dalam tirai, dengan melihat setengah bokong saya.

Saya terlalu lemas dan masih merasakan rasa nyut2an gigi ini. Saya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa membetulkan celana pendek saya secara perlahan agar terlihat sedikit rapi.

“Opo’o pak ? tanyaku“

“Rapopo, pakune copot” jawab pak Nali.

Pak Nali menarik kain itu sekaligus mengakhiri pijatan ini, kemudian mempersilahkan saya untuk ganti. Maturnuwun pak, saya berpamitan salaman sekaligus memberikan tanda terima kasih di dalam amplop yang saya sediakan sebelumnya kepada pak Nali. Saya hanya mesem2 sendiri di tengah perjalanan menuju arah pulang sambil menggumam “koq iso yo ? koq iso yo ? gkkkgkkkgkk, wkkkwkkk … slambune mbukak …

Sudahlah, yang pasti saya tidak bisa mendramatisir suasana hati mereka yang sedang dapat hiburan gratis malam itu. Terlepas dari kejadian di tempat pak Nali, semoga Ibu yang ketawanya paling keras itu tidak bertemu saya di tempat lain. Ini kan diluar skenario, bukan hiburan settingan. Kalaupun bertemu saya juga akan pura2 seolah tidak pernah terjadi apa2. Inilah pijat plus plus pertama saya. Selain untuk mengembalikan kelancaran peredaran darah dan penghambatan proses penuaan, pijatan pak Nali terasa beda dari pijat2 sebelumnya.

Note :
Kenapa sampai segitunya ya kalau ada orang latah, semua hal yang mengejutkannya selalu diucap berkali2…diucap berkali2…diucap berkali2. Ha h ha, ikutan latah kan ? Sekian.

21 thoughts on “Pijat Plus Pertamaku

  1. wkwkwkwkkw…wah itu mah malu yang gak kerasa…..karena saking enaknya dipijit…. lagian kenapa pula mesti pake tirai sih, coba lah ditutup beneran pake pintu..kan lebih “selamat” .hehehe…

    • untungnya lagi saya dipijat dengan posisi tengkurap, coba kalo terbaring lalu ibu2 itu latah dengan apa yg dilihatnya didepan mata . ahhh malunya aku om.
      salam balik dari Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s