Belajar Menerima Kenyataan

sepatu sisihan_Berkeras hati & berusaha mempertahankan sesuatu yang kita miliki, tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal, suatu keadaan atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

Belajar menerima kenyataan dari kejadian dua tahun lalu yang saya alami. Suatu hari, yang amat sangat panas, saat itu saya hendak bepergian kerumah nenek. Dengan menggunakan jasa angkot antar desa saya menaiki bus. Panasnya terik matahari membuat panas suasana didalam bus yang saya tumpangi, seluruh penumpangpun mengeluh panasnya minta ampun.

 

Kejadian itu … 

Laju bus berhenti tepat di depan saya. Bersamaan dengan itu, seorang ibu paruh baya menerobos ke barisan depan untuk naik bus duluan seperti tak mau ketinggalan bus. Laju bus sedikit bergerak dan saya mulai sedikit tertinggal, laju bus semakin cepat namun kondektur bus meminta saya agar segera naik. Sambil setengah berlari, kaki kanan saya naik ke tangga pintu masuk bus. Namun naas, belum sempat kaki kiri saya naik ke tangga ternyata sepatu kiri saya terinjak oleh salah satu penumpang yang menyusul naik. Salah satu sepatu saya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus semakin cepat bergerak, sehingga saya tidak bisa mengambil sepatu yang telah terinjak dan terlepas ke jalan. Huffftt … nasib. Saya murung di dalam bus sambil melihat kearah jendela bus. Entah kenapa beberapa meter laju bus berjalan, saya kemudian melepas sepatu kanan dan melemparkannya keluar jendela bus. Kondektur yang berada didekat saya bertanya ‘Lho sam, utapes e koq diuncalno nang njobone bis ?” ungkapnya dalam boso ngalam, artinya (lho mas, sepatunya kok dilempar keluar jendela bis ?). Saya menjawab ‘Mugo2 sepatuku iso manfaat kanggo wong sing nemu’ (semoga sepatu saya bermanfaat untuk orang yang menemukannya).

Sob, hidup ini indah jika kita mengikhlaskan sesuatu yang kita miliki untuk dimiliki orang lain. Seandainya kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup, rasa kehilangan itu memang awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi kita harus yakin bahwa semua itu terjadi agar ada perubahan positif yang terjadi dalam perjalanan hidup kita.

Akhirnya, saya harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang saat itulah saya harus kehilangan sepatu. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya saya nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik. Dengan satu sepatu yang tinggal sebelah tentu tidak akan banyak bernilai bagi saya. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi orang lain yang membutuhkan. Dengan memahami kejadian di dalam perjalanan kerumah nenek diatas, saya hanya berharap agar saya bisa memahami filosofi dasar dalam hidup saya untuk tidak mempertahankan sesuatu hanya karena saya ingin memilikinya atau karena saya tidak ingin orang lain memilikinya.

Kehilangan hal baik ? semua orang pasti pernah. Bukankah ini semua dapat diartikan supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual ? Bukankah pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mempertahankan sesuatu haruslah terjadi dalam perjalan hidup kita ?. Semua kembali pada kita sendiri, bagaimana menyikapi suatu kejadian yang terjadi dalam perjalanan hidup ini. Ikhlaskan …

23 thoughts on “Belajar Menerima Kenyataan

  1. Suka dengan kesabaran sampean. SEmoga sepatu itu ditemukan oleh yang membutuhkan. Buat Cak Misbach, semoga bisa beli sepatu yang lebih bagus, lebih mahal, merknya lebih oke, dan yang tidak mudah lepas kala diinjak orang hihi

  2. pasti habis putus cinta ya? cerita dengan anaolgi mengiklaskan sepasang sepatu bagus sekali. hidup ini indah, bila kita selalu bisa bersyukur, terima kasih ya

    • Maturnuwun kunjungannya pak Ustadz
      Semoga saya bisa lebih berhati2 dalam menjali kehidupan ini.
      Sukses dan keberkahan semoga tetap terlimpahkan kepada njenengan. Salam dari Malang.

    • Semua pasti pernah kehilangan hal baik. Saya ikhlaskan, agar saya menjadi dewasa secara emosional dan spiritual.
      Lho…koq jd ceramahin mbak Indah, padahal saya kn lebih muda dari mbak Indah.
      Apa kabar New York ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s