My Mother, My Hero

Malam itu aku mendengar suara isak tangis. Aku mencoba mencari sumber suara tangis itu dan mendekatinya. Tangisan itu semakin keras saat aku mendekati sebuah kamar, kamar yang sudah beberapa bulan ini dibiarkan kosong oleh keluargaku. Aku hanya menampakkan separuh wajahku di tengah sekat tembok kamar itu untuk memperhatikan wanita yang menangis di dalam kamar itu. Wanita paruh baya yang usianya tak lagi muda itu adalah Ibuku. Dengan khusyuk Ibu memohonkan do’a dengan sesekali disertai isak tangis. Do’a itu tak lain adalah untuk anaknya yang beberapa bulan lalu pergi menghadap sang Khalik. Kamar berukuran 2m x 3m itu adalah kamar adikku, kamar yang awalnya ditempati oleh adikku kini digunakan sebagai tempat ibadah keluarga.

Kami lahir empat bersaudara, tiga laki2 dan satu perempuan. Satu2nya saudara perempuan itu adikku yang ketiga. Kepergian adikku dua bulan yang lalu menyisakan duka mendalam bagi keluargaku, terlebih Ibuku. Tuhan telah memanggil satu2nya anak perempuan Ibuku untuk selamanya. Kedekatan emosional antara Ibuku dan Adikku yang membuatnya belum bisa merelakan kepergian satu2nya anak perempuan di keluargaku.

Esok harinya, di ruangan tempat yang biasa kami gunakan untuk berkumpul bersama aku mencoba bertanya pada Ibuku, apa yang membuatnya begitu berat untuk melepas kepergian anaknya. Ibuku lalu menceritakan penggalan2 kisah tentang Adikku, menceritakannya sejak Adikku masih dalam kandungan hingga menjelang akhir hayatnya.

Semenjak Adikku dirawat di rumah sakit, Ibuku selalu mendampinginya. Memberikan support kepada Adikku agar kesehatannya semakin membaik. Bahkan, selama dua bulan terhitung hanya satu kali Ibuku pulang ke rumah, dengan harapan agar segera secepatnya menemani Adikku di rumah sakit. Kadang aku mencuri waktu dari tempat kerjaku, karena aku hanya bisa menemani Adik dan Ibuku di rumah sakit setelah pulang kerja. Begitu juga dengan Adik laki2ku yang lain, mereka selalu bergantian menjaga Adikku di rumah sakit.

Empat hari sebelum Lebaran Idul Fitri tahun ini, Ibuku berharap agar Adikku sembuh dan bisa pulang kerumah dengan harapan agar kami bisa melaksanakan sholat Idul Fitri bersama2. Namun Tuhan berkehendak lain, kesehatan Adikku belum sepenuhnya membaik dan kami harus melaksanakan sholat Idul Fitri di masjid yang terletak tidak jauh dari ruang inap Adikku.

Walaupun menjaga dan menunggu orang sakit sangat membutuhkan kesabaran yang ekstra, tak pernah sekalipun Ibuku mengeluh. Setiap hari, setiap waktu Ibuku selalu mendampingi Adikku. Melayani, menggantikan bajunya, menyuapinya, mengambilkan sesuatu, tidur tidak teratur bahkan sampai mengurus ketika Adikku BAB/ BAK.

Hari berganti hari kesehatan Adikku berangsur membaik, dokter menyarankan Adikku boleh pulang. Aktivitas yang dilakukan oleh Ibukupun tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan saat mendampingi Adikku di rumah sakit. Dua minggu menjalani perawatan di rumah kondisi Adikku semakin memburuk, hingga akhirnya harus menjalani rawat inap lagi di rumah sakit. Bahkan untuk lebaran Idhul Adha tahun ini Ibuku dengan penuh keikhlasan menemani Adikku di rumah sakit.

07.10.2014 (selepas sholat maghrib) Ibuku duduk disamping Adikku yang terbaring di tempat tidur rumah sakit, tangan kirinya membelai rambut Adikku dan tangan kanannya memegang tangan Adikku. Sesekali Ibuku juga mengusap air mata yang menetes di pipi Adikku, lalu membacakan beberapa do’a di dekat telinga Adikku. Aku duduk mendekati Ibuku dan kami melakukan obrolan kecil di dalam ruangan itu. Aku merangkul pundak Ibuku, kukatakan ;

“Bu, jangan pernah putus untuk memohon do’a kepada-Nya. Ibu sudah melakukan yang terbaik untuk Adik”. Kita sudah …

Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, inilah limat menit yang menegangkan itu. Ibuku meneteskan air mata karena melihat Adikku yang semakin memburuk keadaannya. Tubuh Adikku terbaring lemah disertai demam, nafasnya pendek dan sedikit terengah-engah. Aku dan Ibuku tak henti2nya membisikan do’a, menuntun Adikku agar semuanya diberikan kemudahan. Aku memegang tangannya dan memandangi wajah Adikku menarik nafas dalam sekali dan sedikit terengah, berkali-kali dan … hingga Adikku menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Innalillahi wa inna illaihi rajiun … Berkali2 Ibuku berkata “Adikmu telah tiada”. Aku segera merangkul Ibuku, menenangkan hatinya dan membawanya keluar ruangan itu.

Ternyata, Tuhan meringankan sakit Adikku dengan cara memanggilnya, dan dia terlalu muda untuk meninggal. Kini Ibuku telah merelakan kepergian Adikku, dan lebih kepada menyadari serta menerima bahwa ada kehendak-Nya yang tak bisa dipaksakan dari hidup ini. Aku tahu ini adalah masa tersulit bagi Ibuku, tapi do’a, dukungan serta perhatian dari sahabat dan kerabat telah menjadi sumber kekuatan Ibuku. Untuk Ibu yang memiliki hati seluas samudera, semoga Tuhan memberikan surga-Nya untukmu, diberikan kesehatan serta ketabahan hati untuk menjalani hari2nya.

Adikku adalah pribadi yang tangguh dan pekerja keras, kegagalan dalam menjalani kehidupan rumah tangganya tidak pernah membuatnya menjadi pribadi yang lemah. Sepeninggal Adikku, aku menjalankan tanggungjawabku menjadi Bapak sekaligus Ibu dari anak yang ditinggalkan oleh Adikku. Iya, kami sekeluarga dan Ibuku bersama2 merawat dan membesarkan anak Adikku.

Kata Dokter Adikku terkena infeksi saluran pernapasan atas yang kemudian berpindah ke paru-paru yang mengeras disertai kesulitan untuk mengekstraksi oksigen, karena terhambat cairan dan memerlukan waktu lama untuk sembuh/ bertahan hidup.

Dedicated to my sister ; Fila Umami

my mother my hero

Ibuku, Rehan (anak Adikku) dan Adikku (Alm)

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

40 thoughts on “My Mother, My Hero

  1. Innalillahi wainailaihi rojiuuun…semoga adiknya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya ya mas..dan sungguh Ibu dan keluarga penuh dengan kesabaran dan ketabahan…Ibu pun menjadi sumber kekuatan saya mas..salam hormat untuk Ibu..

  2. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    • Terima kasih do’anya mbak. salam hormat untuk keluarga disana.
      terkadang kehilangan itu awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi saya yakin bahwa semua yg terjadi agar ada perubahan positif yang terjadi dalam perjalanan hidup kita.
      Mbak Aira tetangganya om NhHer ?

  3. Merelakan bukanlah sesuatu yang mudah. Harus ada tindakan nyata dan tekad. Semoga kamu dan ibumu selau dilindungi Tuhan dan mau merelakan almarhumah adikmu. Bersukacita dan bersyukurlah karena diberi kesempatan mendampingi dalam rentang waktu yang telak kalian jalani. Dan ada Rehan yang menjelama dari wujud almarhumah.

    • Kami harus ikhlas, karena Tuhan sudah menentukan bahwa memang saat itulah kami harus kehilangan orang yang sangat kami cintai.
      Terima kasih mbak, salam hormat untuk Mama dan keluarga.

  4. Turut berduka cita atas kematian adik perempuannya, Mas.
    Urut-urutan keluarga kita sama. Saya anak pertama, adik perempuan tepat di bawah saya, lalu ada adik laki-laki lagi dua orang.

    Salam hangat dari Pemalang.

    • Maturnuwun do’anya sam,
      salam hormat buat keluarga cak Lozz, semoga selalu diberi kesehatan.
      Ngaputen admin e warung tak culik nang Bromo, acara dadakan mbak Yunie sama Idah Ceris.

  5. Innalillahi wainailaihi rojiuuun. Semoga kakak diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan keluarga yg ditinggalkan mendapatkan kesabaran dan kesejahteraan selalu.

    • Amin, terima kasih do’anya mas Arip
      Sudah menjadi ketetapan kapan kita dipertemukan atau dipisahkan dari orang2 yang kita cinta.
      Salam silaturahmi, salam hormat untuk Ibu dan keluarga mas Arip.

  6. inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun, semoga amal ibadahnya diteriama Allah dan diampuni dosa-dosanya. Dan keluarganya diberi kekuatan dan keikhlasan, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

  7. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiuun, sesak baca tulisanmu ini, Cak. Setiap kata yang keluar terasa hidup dan penuh emosi. Semoga Almh Mbak Fila mendapat tempat yang terbaik di sisiNya Amiin..

    • Amin, terima kasih atas doanya mbak Evrina.
      Jika melihat perjuangannya saat sakit, kami merelakan kehendak-Nya, dia terlalu muda untuk meninggalkan anaknya.
      Salam dari Malang, jangan lupa mampir di Tumpang.

  8. Ping-balik: My Mother, My Hero - MALANG CITIZEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s