Sang Idola, Luna …

Tak ada henti mataku memandang tajam ketika tubuh tanpa sehelai benang itu berbaring dengan gemulainnya, sangat putih dan mulus terlihat jelas di kedua bola mataku. Tak hanya sampai disitu mataku terus berlanjut menikmati pemandangan ini mulai ujung kepalanya, wajahnya, hidungnya, mulutnya yang tipis, leher jenjangnya, dadanya yang naik turun lembut, perutnya yang langsing hingga kekakinya. Hmmm … ga ada cacat gumamku lirih.

Hampir sepuluh menit kupelototi indahnya tubuh itu, Lanjutkan Membacanya

Kesurupan di Depan Istri

Kuda Lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula kesenianan ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Konon, kesenian Kuda Lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa kesenian Kuda Lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, kesenianan ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya,  di daerah saya kesenian tradisional ini masih kerap diadakan oleh warga sekaligus melestarikannya.

Cerita dimulai dari salah satu tetangga saya yang memiliki saudara dengan kejadian aneh, menggelikan sekaligus Lanjutkan Membacanya

Tukul Sang Humortivator

Sampai sekarang ini Nama Tukul Arwana, masih menggelora. Candanya masih membuat “Indonesia Tertawa” Kalau Anda tidak percaya silahkan keliling komplek dan gang gang ketika siaran 4 Mata atau pun Stasiun Ramadhan di Malam hari saat saur. Perilakunya yang “katro” membuat orang terpingkal pingkal.

“Man a taste… Man a taste Man ataste….” Itu yang diteriakan ketika Lanjutkan Membacanya